Untuk apa Allah menyuruh kita Puasa?

by EYANKGHAIB® on 02:19 PM, 07-Aug-10

Untuk merubah
kualitas seseorang
dari Iman menjadi
Takwa dibutuhkan 3
tahap. Masing-
masing sekitar 10
hari. Rasulullah
mengatakan bahwa
puasa Ramadhan
selama sebulan itu
dibagi menjadi 3
tahap. Yaitu, sepuluh
hari pertama berisi
Rahmat. Sepuluh hari
kedua berisi
Ampunan alias
Maghfirah. Dan
sepuluh hari terakhir
berisi dengan
Nikmat.
Dalam konteks
‘penyembuhan’
yang kita bahas di
depan, 3 tahap
proses ini
menemukan
kesamaannya. Yaitu,
proses detoksifikasi
alias penggelontoran
racun, proses
rejuvenasi atau
peremajaan, dan
proses stabilisasi
atau pemantapan
kondisi. Hal ini bisa
bermakna lahiriah
maupun batiniah
sekaligus.
Secara lahiriah, tiga
tahapan dalam
puasa Ramadhan itu
menggambarkan
terjadinya proses
penyeimbangan
kondisi kesehatan
tubuh seseorang.
Saya pernah
mengadakan
pengamatan
sederhana terhariap
sejumlah kawan-
kawan yang
berpuasa pada bulan
Ramadhan tahun
lalu.
Sebelum memasuki
puasa Ramadhan,
beberapa orang
melakukan check
kesehatan di
laboratorium untuk
mengukur kadar
asam urat,
kolesterol, gula
darah dan SGOT/
SGPT Kami ingin
membandingkan
kondisinya dengan
setelah melakukan
puasa.
Maka yang terjadi
sungguh menarik
untuk dicermati. Dan
saya ingin
melakukan
pendalaman lebih
lanjut tentang efek
puasa Ramadhan
terhariap kondisi
kesehatan
seseorang.
Namun secara
umum, tiga tahapan
puasa di atas
memang terjadi.
Dalam pengamatan
itu, saya
menemukan
kesimpulan bahwa
10 hari pertama,
kondisi kesehatan
kami mengalami
proses detoksifikasi
alias penggelontoran
racun besar besaran.
Prosesnya memang
bisa berbeda beda
pada setiap orang.
Namun secara umum
terjadi penurunan
kadar kolesterol,
asam urat, gula
darah dan SGOT/
SGPT secara
dramatis.
Misalnya, di
antaranya ada yang
sebelum puasa itu
memiliki kadar
kolesterol sangat
tinggi. Kadar
kolesterol total 245
(normalnya di bawah
200 mg/dl), HDL
cuma 42 (normalnya
di atas 55 mg/dl),
LDL mencapai kadar
‘tak
terhitung’ (normalnya
lebih kecil dari 150
mg/ dl), dan TG
sebesar 513
(normalnya 150 mg/
dl).
Setelah berpuasa
selama 10 hari
pertama, kami
melakukan cek ulang
ke lab. Hasilnya
sungguh menarik.
Kolesterol totalnya
turun menjadi 216.
HDL yang terlalu
rendah meningkat
menjadi 55. LDL yang
terlalu tinggi (tidak
terhitung) menjadi
normal kembali
sebesar 111. Dan
Trigliserida yang 513
turun menjadi 249.
Proses detoksifikasi
yang terjadi selama
puasa 10 hari
pertama itu ternyata
sangat signifikan.
Padahal, biasanya
dalam kondisi tidak
puasa, penurunan
sebesar itu dilakukan
dalam waktu 4
minggu
menggunakan obat-
obatan penurun
kadar kolesterol. Itu
pun harganya
tergolong tidak
murah. Lewat puasa,
bisa dilakukan hanya
dalam waktu 10 hari
tanpa menggunakan
obat sama sekali.
Badan melakukan
fungsinya untuk
melakukan
penyeimbangan
secara alamiah
dengan sangat
efektif pada saat
kita berpuasa. Yang
terlalu tinggi
diturunkan. Dan yang
terlalu rendah
ditinggikan, secara
otomatis.
Saat proses
detoksifikasi itu
biasanya kita
merasakan kondisi
yang kurang
mengenakkan
badan. Ada yang
merasa lemas. Ada
juga yang merasa.
Pusing-pusing dan
demam ringan. Atau,
kadang dibarengi
dengan diare ringan
serta air kencing
yang keruh. Semua
itu normal saja,
karena sedang
terjadi
penggelontoran
racun secara besar-
besaran dalam tubuh
kita. Gejala-gejala itu
biasanya hilang
dalam waktu
beberapa hari,
setelah badan kita
beradaptasi.
Pada 10 hari kedua,
proses
penggelontoran itu
terus berlanjut. Tapi
dengan kecepatan
yang lebih rendah.
Penggelontoran
besar besaran hanya
terjadi pada 10 hari
pertama. Dan
bersamaan dengan
detoksifikasi
berkecepatan
rendah itu, mulai
terjadi peremajaan
pada bagian-bagian
yang mengalami
kerusakan. Sistem
tubuh mulai
mengarah pada
keseimbangannya.
Cek laboratorium
menunjukkan
kecepatan
penurunan semakin
melambat. Pada hari
ke 21, hasil lab
memperlihatkan
semua kadar
kolesterol
berangsur-angsur
normal. Kolesterol
total mencapai
angka cukup ideal
182 mg/dl.
Sedangkan HDL
konstan pada 55 mg/
dl. LDL semakin
rendah mencapai 96
mg/dI. Dan
Trigliserida menjadi
148 mg/dl.
Selainkolesterol,
ternyata asam urat
juga mengalami
penyeimbangan
kembali. Sebelum
puasa, kadarnya 7,7
(normalnya di bawah
7 untuk laki laki).
Ternyata dalam 10
hari pertama pada
orang yang sama
asam uratnya turun
menjadi 6,6. Dan
pada hari ke 21 asam
urat turun lagi
menjadi 6,2.
Pada 10 hari
terakhir, kondisinya
menuju pada
keadaan seimbang.
Ada penurunan
namun semakin
rendah
kecepatannya. Yang
menarik, ternyata
berat badan juga
mengalami proses
yang seirama.
Pada 10 hari
pertama, berat
badan mengalami
penurunan cukup
besar. Diperoleh
data, bahwa
sebelum puasa berat
badan mencapai 70
kg. Ternyata, di hari
ke 11 berat
badannya turun
sebanyak 3 kg
menjadi 67 kg.
Pada hari ke 21,
terukur berat
badannya terus
mengalami
penurunan meskipun
tidak sebesar
periode pertama. la
mengalami
penurunan sekitar
1,5 kg menjadi 65,5
kg. Dan yang
menarik, penurunan
berat badan itu tidak
berlangsung pada
periode ketiga. Saat
hari terakhir puasa,
berat badannya
justru naik kembali
menjadi 66,5 kg.
Sebuah berat badan
ideal, karena ia
memiliki postur
dengan tinggi badan
169 cm.
Ternyata benar
ungkapan Rasulullah
saw bahwa dalam
bulan Ramadhan itu
kita bakal
mengalami 3 tahap
proses menuju
keseimbangan
kondisisecara
alamiah. Tahap
pertama rahmat,
karena Allah
membersihkan
badan kita dari
racun-racun yang
membahayakan
kesehatan lewat
proses detoksifikasi.
Tahap yang kedua
adalah maghfirah
atau ampunan.
Dalam 10 hari kedua
itu Allah benar-benar
memberikan
ampunan kepada
hambaNya yang
berpuasa dengan
mengembalikan
kondisi badan yang
tadinya mengandung
banyak sampah
metabolisme
menjadi bersih. Dan
kemudian
meremajakan
kembali bagian-
bagian yang rusak.
Dan pada tahap
ketiga, Allah
menurunkan
nikmatnya kepada
orang-orang yang
berpuasa dengan
baik. Di tahap ketiga
itu, badan kita
berangsur-angsur
menuju
keseimbangan
alamiahnya. Bahkan,
berat badan yang
tadinya mengalami
penurunan, di tahap
ini justru mengalami
kenaikannya kembali
untuk menuju
kondisi normalnya.
Maha benar Allah
dengan segala
firmanNya,
sebagaimana
disampaikan oleh
RasulNya …
Selain berdampak
secara lahiriah,
tahapan puasa
dalam bulan
Ramadhan itu juga
tampak dalam
aktivitas yang
bersifat batiniah.
Pada skala batiniah,
tahapan puasa
memberikan
motivasi yang besar
kepada orang-orang
yang sedang
menjalankan puasa.
Tahapan itu ada
kaitannya dengan
sabda nabi
“barangsiapa
berpuasa pada bulan
Ramadhan dengan
Iman dan penuh
perhitungan, maka
Allah akan
mengampuni dosa-
dosanya yang lalu
maupun yang akan
datang.
Sabda nabi ini
mengarahkan kita
agar tidak
sembarangan dalam
berpuasa. Ada dua
hal yang
dipersyaratkan,
imanan dan
wahtisaban. Yaitu
‘memahami’ dan
’selalu
mengevaluasi
pelaksanaannya’.
Nah, berkaitan
dengan itu, kita
mengevaluasinya
dalam 3 tahapan,
masing-masing 10
hari. Sebab efek
puasa memang tidak
langsung dirasakan
hari itu juga,
melainkan butuh
tenggang waktu
untuk mengukur
dampaknya.
Sebagaimana yang
terlihat secara
lahiriah, kurun waktu
10 hari itu juga telah
memperlihatkan
dampaknya.
Pada sepuluh hari
pertama,
sebagaimana
dampak
lahiriyahnya, puasa
kita akan
menggelontor
berbagai macam
penyakit hati.
Apakah penyakit hati
yang bakal
tergelontor? Banyak.
Di antaranya adalah
suka berbohong,
sering menipu,
pemarah, pembenci,
sulit memaafkan,
serakah, sombong,
riya’, dan lain
sebagainya.
Pada kondisi ini jika
kita bisa
‘menghancurkan’
penyakit penyakit
batiniah itu, maka
dampaknya sungguh
akan baik buat
kebersihan dan
kelembutan hati.
Bahwa hati yang
berpenyakit akan
mendorong kualitas
hati itu menjadi
semakin jelek
dengan cara
mengeras, membatu,
tertutup dan dikunci
mati oleh Allah.
Maka, dengan puasa,
sebenarnya kita
sedang memproses
hati kita agar
semakin melembut.
Caranya, begitulah,
pada tahap pertama
mesti bisa
melenyapkan
berbagai macam
penyakit hati.
Usahakan agar
selama 10 hari
pertama itu kita
tidak
‘ mengamalkan’
penyakit hati sama
sekali. Puasa
batiniah!
Jangan marah.
Jangan berbohong.
Jangan membenci.
Jangan menipu.
Jangan iri dan
dengki. Jangan
sombong. Jangan
berkata yang tidak
berguna. Bahkan,
untuk ‘berpikir’
jelek pun jangan! Dan
seterusnya.
Kendalikan sifat-
sifat ini dengan
kefahaman bahwa
ini memang sifat
yang merugikan
siapa saja. Dan
kemudian evaluasi
terus, bahwa dari ke
hari kemampuan kita
mengendalikannya
adalah semakin
besar. Maka kalau
kita bisa
mengendalikannya
selama 10 hari
pertama, insya Allah
kita bakal menerima
rahmatNya, berupa,
kondisi batiniah yang
melembut.
Tiba-tiba saja kita
begitu mudahnya
untuk tidak marah.
Begitu mudahnya
untuk tidak
berbohong. Begitu
mudahnya untuk
tidak dengki, iri dan
sombong. Serta
berbagai macam
penyakit hati yang
dilarang oleh Allah
dan RasulNya. Ya,
kita telah ketularan
RahmatNya rasa
mengasihi dan
menyayangi orang
lain dan siapapun di
sekitar kita dengan
sepenuh keikhlasan.
Itulah 10 hari
pertama dimana
Allah menurunkan
Rahmat bagi orang-
orang yang baik
puasanya.
Sepuluh hari ke 2
adalah ketika Allah
menurunkan
ampunanNya kepada
hamba-hamba yang
berpuasa. Ketika
seseorang bisa
mengendalikan
dirinya untuk tidak
berbuat jelek, tidak
berkata buruk, dan
tidak berpikiran
jahat, maka sungguh
ia telah memperoleh
ampunan Allah.
Bahkan, ampunan itu
bukan hanya
sekarang saja,
melainkan juga
‘dosa-dosanya’ di
masa datang.
Karena,
sesungguhnya dia
tidak akan berbuat
dosa lagi lewat
pikiran, ucapan, dan
perbuatannya. la
telah menjadi orang
yang mampu
mengendalikan
dirinya.
Sepuluh hari yang ke
3, adalah saat-saat
Allah
mengkaruniakan
Nikmat. Ya, betapa
nikmatnya orang-
orang yang telah
mampu
mengendalikan diri
dengan baik. Selama
20 hari pertama dia
telah mampu melatih
dan membiasakan
dirinya untuk tidak
melakukan dosa-
dosa yang membuat
hatinya jadi
‘keruh’ dan
mengeras.
Maka di sepuluh hari
terakhir dia akan
memetik
kenikmatan. Apakah
kenikmatan? Selama
ini orang berpikir
bahwa kenikmatan
adalah
terlaksananya
segala keinginan
yang menjadi cita-
citanya. Padahal,
definisi itu sangatlah
rapuh. Mana
mungkin ada orang
yang terpuaskan
atas keinginan-
keinginannya.
Apalagi, jika ia
sangat menggebu-
gebu dalam
mencapai
keinginannya.
Dia bagaikan
mengejar
fatamorgana.
Seperti indah ketika
masih jauh, tapi
begitu didekati
ternyata tidak
seperti yang dia
bayangkan.
Begitulah manusia
dalam mengejar
kenikmatan.
Ternyata,
kebanyakan nikmat
yang kita kejar
adalah semu belaka.
Maka Allah
mengajarkan kepada
kita tentang
kenikmatan itu.
Bahwa kenikmatan
yang sesungguhnya
hanya bisa
didapatkan lewat
keimanan,
sebagaimana Dia
firmankan berikut
ini.
“ Lalu mereka
beriman, karena itu
Kami anugerahkan
kenikmatan hidup
kepada mereka
hingga waktu yang
tertentu.” (QS. Ash
Shaffat (37) : 148)
Apakah keimanan?
Sekali lagi, keimanan
adalah kefahaman
yang mengarah
kepada keyakinan.
Dan lebih khusus lagi,
keyakinan itu terkait
dengan kefahaman
tentang Allah dengan
segala
sunnatullahNya.
Kenikmatan hakiki
adalah kenikmatan
yang diperoleh lewat
kefahaman. Bukan
karena emosi alias
hawa nafsu belaka.
Kenikmatan yang
didasarkan pada
hawa nafsu secara
emosional adalah
kenikmatan yang
semu. Bahkan,
memiliki potensi
untuk merusak
sebagaimana telah
kita bahas
sebelumnya: “kalau
hawa nafsu di
jadikan ukuran
kebenaran maka
rusaklah langit dan
bumi dan segala
isinya.”
Maka, jika kita ingin
memperoleh nikmat
yang hakiki kita
mesti
memperolehnya
secara iman lewat
pendekatan akal.
Bahwa kenikmatan
adalah sebentuk
manfaat yang
terkait dengan
kemampuan kita
mengendalikan diri
karena Allah semata.
Dalam kaitannya
dengan puasa ini,
maka di tahap 10
hari ke tiga itu,
seseorang yang
berpuasa, memang
mulai bisa
‘menundukkan’
hawa nafsunya.
Akalnya berfungsi
lebih dominan
dibandingkan
kehendak
emosionalnya. Dan
lebih dari itu semua,
ia melakukannya
karena Allah semata.
Inilah kunci
kenikmatan yang
dijanjikan Allah
kepada hamba
hamba yang
berpuasa pada etape
10 hari ke tiga.
Setelah melewati
masa
‘ penggelontoran’
penyakit hati, dan
masa
‘ pengampunan’
dosa-dosa, maka
orang yang berpuasa
bakal merasakan
betapa nikmatnya
menjalani ibadah itu
di akhir akhir
Ramadhan.
la telah menemukan
keseimbangan
antara lahir dan
batinnya. Antara fisik
dan jiwanya. Maka,
pada sepuluh hari
terakhir itu
seseorang yang
berpuasa masuk ke
tahapan spiritual. la
sedang berproses
untuk ‘bertemu’
Allah di dalam ibadah
puasanya yang
semakin intens.
Di sepuluh hari
terakhir itu biasanya
Rasulullah saw
meningkatkan
ibadahnya lebih
hebat baik secara
kualitas maupun
kuantitas. Beliau
biasanya masuk ke
masjid untuk
melakukan Itikaf,
berkonsentrasi
sepenuhnyadalam
ibadah-ibadah yang
semakin banyak dan
khusyu untuk
mencapai
‘ puncak’ efek
puasa. Inilah saat-
saat terakhir yang
sangat menentukan
berhasil tidaknya
puasa Ramadhan
kita menjadi orang
yang bertakwa.
Di sepuluh hari
terakhir itu juga
Allah menyediakan
malam yang penuh
barokah yaitu Lailat
al Qadar. Yaitu
malam yang
digambarkan
memiliki nilai sangat
tinggi, lebih hebat
dari 1000 bulan.
Lebih jauh akan kita
bahas di bagian
berikutnya.
Sungguh, orang-
orang yang bisa
menjalani puasanya
di sepuluh hari
terakhir dengan baik,
ia bakal menemui
Lailat al Qadar yang
penuh kenikmatan.
Bukan hanya pada
saat puasa
Ramadhan,
melainkan ia akan
memperoleh
pencerahan
sepanjang hidupnya
sehingga menjadi
orang yang
bertakwa orang
yang dijamin Allah
dengan berbagai
kenikmatan.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

7 responses to "Untuk apa Allah menyuruh kita Puasa?"

Damhaila [09:31 AM, 10-Aug-10]

puasa, bermakna mengosongkan diri dari segala sesuatu yang diharamkannya. baik di dalam perbuatan maupun pemikiran.. smile

Penjelajah [08:12 PM, 17-Aug-10]

Demi Allah,blog ini bagus banget.

Saya kasih 5 bintang..

LumpurHitam [04:58 AM, 17-Sep-10]

ini yg dibahas puasa ramadhan ya?:mikir

SBY [02:09 PM, 27-Oct-10]

PENIPU

Sangat instruktif [09:36 PM, 25-Jan-11]

Terima kasih atas informasi menarik

Bardzo pouczajace [01:52 AM, 29-Jan-11]

bardzo ciekawe, dzieki

arji [09:25 PM, 20-Jul-12]

ramadhan ini semoga saya berpuasa 1 bln penuh.

Subscribe to comment feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images