Selingkuh Penyebab Utama Perceraian

by EYANKGHAIB® on 03:32 AM, 12-Oct-11

Setiap dua jam tiga pasang suami istri bercerai gara- gara selingkuh. Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Yusman Arifin, tertangkap basah bersama pasangan selingkuhannya di sebuah wisma di Jalan Mardani, Jakarta Pusat. Sang istri, Naila Ibrahim sendiri yang memergokinya sembari membawa rombongan wartawan. Sementara itu, Polres Tulungagung menetapkan anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Agus Sukarno Putro (29) dari Fraksi PKNU dan pasangan selingkuhnya, Apriliana (30) yang juga bendahara sekwan sebagai tersangka. Mereka dijerat pasal 284 KUHP tentang perzinaan. Berita seperti itu banyak menghiasi media massa, bukan satu-dua kasus. Bukan hanya menyangkut kalangan artis, tapi juga kaum elitis. Itupun yang ketahuan saja, yang tak terendus jauh lebih banyak. Tak heran bila di Indonesia, detektif swasta banyak yang disewa untuk menyelidiki perselingkuhan, khususnya yang dilakukan pejabat. “Memang, klien kami kebanyakan mengadukan soal perselingkuhan,” kata CJ Ryon, pimpinan dan pendiri Pancaindera.com, sebuah lembaga penyelidik swasta spesialis perselingkuhan. Picu Perceraian Ya, praktik selingkuh telah begitu meluas. Bahkan, kini menjadi ancaman serius bagi institusi keluarga bahagia. Sejumlah hasil penelitian dalam dan luar negeri membuktikan bahwa dari sekian banyak penyebab perceraian, selingkuh menjadi penyebab utama. Menurut data Ditjen Pembinaan Peradilan Agama (PPA) Mahkamah Agung, persentase perselingkuhan perempuan lebih kecil dari pria. Sedangkan Amir Sjarifoedin Tjunti Agus, dalam bukunya “Wanita-Wanita Selingkuh; Rumput Tetangga Terlihat lebih Hijau”, melakukan penelitian terhadap 100 "wanita peselingkuh" usia 24-50 tahun, berdasarkan strata ekonomi, sosial, dan sebagainya, -dengan latar belakang pendidikan (SLTA sampai S-2). Terungkap, banyak wanita lebih memilih selingkuh daripada memperbaiki hubungan dengan suami. Bahkan, mereka berselingkuh tidak saja dengan PIL (pria idaman lain), tapi juga dengan adik ipar, anak kos, siswa, mahasiswa, "brondong", lesbian, bahkan gigolo. Menjijikkan! Hasil perselingkuhan ini, mendorong pergerakan stastistik perceraian dari tahun ke tahun. Direktorat Jendral Pembinaan Peradilan Agama mencatat, kini selingkuh menjadi virus keluarga nomor empat. Tahun 2005 lalu, misalnya, ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. Persentasenya mencapai 9,16 persen dari 150.395 kasus perceraian tahun 2005 atau 13.779 kasus. Alhasil, dari 10 keluarga bercerai, 1 di antaranya karena selingkuh. Atau, rata- rata, setiap 2 jam ada tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh. Perceraian karena selingkuh itu jauh melampaui perceraian akibat poligami tidak sehat yang hanya 879 kasus atau 0,58 persen dari total perceraian tahun 2005. Perceraian gara-gara selingkuh juga 10 kali lipat dibanding perceraian karena penganiayaan yang hanya 916 kasus atau 0,6 persen. Dan, data perselingkuhan itu diprediksi akan terus meroket. "Karena banyak tokoh yang melakukannya," kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan untuk Keadilan (LBH APIK), Ratna Batara Munti. "Selingkuh adalah fenomena tidak sehat bagi bangsa ini. Selingkuh itu zina," tandas Nasaruddin Umar, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag. Sayang, istilah selingkuh sendiri kerap diakronimkan 'selingan indah keluarga utuh', hingga banyak yang penasaran mencobanya. Padahal mereka Muslim dan Muslimah. Ironi! Selingkuh Haram Lafal selingkuh berasal dari bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya. Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong. Namun, lafal selingkuh di Indonesia muncul secara nasional dalam bahasa Indonesia dengan makna khusus "hubungan gelap" atau tingkah serong orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain. Sehingga begitu bahasa Jawa selingkuh ini mencuat jadi bahasa Indonesia tahun 1995-an, langsung punya makna lain (tersendiri) yaitu hubungan gelap ataupun perzinaan orang yang sudah bersuami atau beristri. Ini satu perpindahan makna bahasa serta budaya bahkan ajaran. Sebab menurut budaya Barat (bahkan hukum Barat), yang namanya zina itu hanya kalau sudah bersuami atau beristri, sedangkan jika masih bujangan atau suka sama suka, dianggap tidak. Itu sama sekali berlainan dengan Islam, karena ada zina muhshan (yang sudah pernah berhubungan badan karena nikah yang sah, hukumannya menurut Islam, dirajam/dilempari batu sampai mati) dan zina ghairu muhshan (belum pernah nikah, hukumannya dicambuk 100 kali dan dibuang setahun bagi lelaki, dan didera 100 kali bagi perempuan). Sampai sekarang, lafal selingkuh lebih dekat kepada makna hubungan gelap antara orang yang sudah bersuami atau beristeri dengan pasangan lain. Kalau pacaran dianggap bukan selingkuh, tetapi kalau diam-diam ada pacar lain lagi, baru dianggap selingkuh. Ini semua makna-makna yang berkembang, tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan syariat Islam karena Islam tidak memperbolehkan pacaran. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), selingkuh adalah: (1). Suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong. (2) Suka menggelapkan uang; korup. (3) Suka menyeleweng. Dilihat dari definisi itu, lafal selingkuh sekarang sudah mengalami perubahan makna, menjadi makna khusus, hubungan gelap bagi orang bersuami atau beristeri. Dan perbuatan itu dianggapnya lumrah. Padahal diharamkan menurut Islam Pernikahan Ditinggalkan Rusaknya moral kaum elite (al-mutrafin) adalah menyangkut selingkuh secara utuh, yaitu makna secara keseluruhan. Baik selingkuh yang maknanya korupsi, tidak jujur, serong maupun zina. Diadili saja tidak, apalagi dirajam, yaitu dibunuh dengan cara dilempari batu. Kalau yang cerai gara-gara selingkuh saja tiap dua jam ada, lantas kalau mereka diadili, berarti tiap dua jam ada sepasang selingkuh yang bisa divonis mati dengan dirajam. Karena yang diseret ke pangadilan hanya yang korupsi, bukan yang berzina, maka suatu ketika lembaga ulama mengeluarkan semacam fatwa atau imbauan hanya menyangkut pemberantasan korupsi, bukan untuk mengadili yang berzina. Kenapa separah ini? Karena, ada kekuatan-kekuatan jahat yang bersekongkol atau berkomplot yang merusak umat Islam Indonesia ini secara sistematis. Antara lain melalui majalah porno (Playboy misalnya), film porno, situs porno, dll. Sedangkan aturan yang 'berbau' Islam terus diobrak-abrik. Seperti UU Perkawinan, tentang kebolehan poligami, diikuti dengan syarat yang ketat. Sebaliknya, bagi yang ingin zina, sarananya telah tersedia, sedang sistemnya tidak mempersoalkannya. Lebih dari itu justru perzinaan menjadi salah satu lahan pemasukan bagi pemerintah daerah atau orang-orang yang berbisnis maksiat. Bahkan ketika kerusakan akibat perzinaan ini terjadi, seperti menjalarnya penyakit AIDS, pemerintah dan media menolong mereka dengan berbagai program indahnya. Seperti kondomisasi, kesehatan reproduksi, antidiskriminasi ODHA (orang dengan HIV/Aids), dll. Dianjurkanlah kondom, disebar gratis di lokasi maksiat. Merebaklan seks bebas. Dan ketika seks bebas sudah menjadi budaya, ikatan suci pernikahan pun ditinggalkan. Ya, saat angka perceraian terus meningkat dari tahun ke tahun, pernikahan justru terus mengalami penurunan. Lembaga pernikahan tidak lagi menarik. Jumlah pernikahan tahun 2005 lalu, bahkan hanya sedikit meningkat dibanding 1950-an, di saat jumlah penduduk baru 50 juta orang. "Jumlah pernikahan tahun 1950-an lalu sudah mencapai 1,4 juta, lho," kata peneliti ahli Litbang Departemen Agama, Moh Zahid (Republika, 7/1/07). Kalau sudah begitu, malapetaka kehancuran keluarga, runtuhnya institusi pernikahan tinggal menunggu waktu. Semai generasi mujahid dalam keluarga pun terancam gagal. Ini jelas harus dihentikan! Ingat, akronim selingkuh sebagai `selingan indah keluarga utuh', tidak pernah berlaku, karena sejatinya selingkuh adalah `selingan indah keluarga runtuh'. Untuk menghentikan itu, tegakkan hukum zina! Tegakkan Syariat Islam melalui Khilafah Islamiyah!

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

5 responses to "Selingkuh Penyebab Utama Perceraian"

Mati Diatas Pelukan Langsung Nyemplung Ke Neraka......wkwkwk.. [01:56 PM, 13-Oct-11]

APA yang Anda
lakukan, apabila istri
berselingkuh?
Menyakitkan memang,
tapi itulah yang sering
terjadi dalam dunia
penuh kebebasan saat ini. Ketika
seorang wanita berselingkuh, tak jarang
pria bertanya-tanya, apa kesalahan atau
kekurangannya hingga pasangannya
tega melakukan perbuatan yang
diharamkan agama itu.
Fakta yang diungkap Prof Tim Spector
dari Twin Research Unit di St Thomas’s
Hospital London, menunjukkan kasus
perselingkuhan justru sering tak
memerlukan penyebab psikologis. Hasil
studi paling gres malah menyingkap sifat
suka berselingkuh itu berkaitan dengan
faktor genetik.
Menurut Prof Spector, saat meneliti
komponen genetik sejumlah orang
kembar menemukan, jika satu dari orang
kembar tersebut punya sejarah
berselingkuh, 55 persen kemungkinan
saudara kembarnya juga suka melakukan
hubungan gelap.
“Kecenderungan untuk setia atau tidak,
paling kental terlihat pada orang kembar
identik, karena mereka mempunyai
susunan gen yang sama. Angka tersebut
jauh lebih tinggi dibandingkan
kecenderungan wanita umumnya untuk
berselingkuh yang hanya 23 persen,”
jelas Prof Spector.
Menurut Prof Spector, gen yang
bertanggungjawab terhadap
kecenderungan berselingkuh pada
wanita, kemungkinan besar merupakan
proses evolusi dari gabungan gen dari
berbagai sumber.
“Akan tetapi sifat ini tampaknya tidak
dikontrol satu gen saja, tapi sejumlah gen
yang bekerja sama. Sepertinya dengan
evolusi ini wanita menjadi lebih punya
peluang untuk memilih yang terbaik,”
jelasnya.
Bagaimana risiko bagi kaum Adam? Dari
penelitian terakhir di Jerman sungguh
menakutkan. Pria yang tak setia,
memiliki kemungkinan meninggal saat
berhubungan seks lebih besar dibanding
pria setia.
Pria yang suka berselingkuh diketahui
lebih riskan terhadap serangan jantung
dibanding pria setia. Tim peneliti dari
Centre for Forensic Medicine di Frankfurt,
mencoba meneliti catatan kematian dari
30.000 orang yang hidup dalam masa
tiga dekade terakhir.
Dari tumpukan arsip kematian tersebut,
mereka menemukan 60 kasus pria yang
meninggal saat melakukan aktivitas
seksual. Sebanyak 56 kasus, diketahui
meninggal akibat serangan jantung saat
berhubungan intim. Empat kasus sisanya,
meninggal saat melakukan masturbasi.
Dari 56 kasus pria yang meninggal akibat
serangan jantung saat bercinta, hanya
empat pria yang saat itu intim dengan
pasangan resminya. Selebihnya
meninggal dalam pelukan kekasih gelap
atau pekerja seks komersial di hotel.
Para peneliti Jerman hanya bisa
berspekulasi, mengapa pria meninggal di
pelukan selingkuhan lebih banyak
dibanding yang di pelukan pasangan
resmi. “Kemungkinan besar mereka
berusaha terlalu keras, melebihi
kapasitas tubuhnya untuk membuat
selingkuhannya terkesan,” jelas seorang
jubir Centre for Forensic Medicine
Frankfurt.
Begitupula wanita, menurut peneliti
tersebut hanya wanita yang memang
mempunyai karakter yagn sulit diatur
(selain gen) yang merupakan faktor
perselingkuhan terjadi.
Nah, semoga wanita tukang selingkuh
cepat sadar sebelum dia mati….!

Hati2...Perempuan Yang Berdagu Besar Doyan Selingkuh !! [02:22 PM, 13-Oct-11]

Wanita memang makhluk yang sangat
unik dari pada pria, dan hal tersebut
dapat menjadi daya tarik yang sangat
besar bagi sang pria pria. Dari ujung
rambut sampai ujung kaki mungkin akan
menjadi hal yang sangat istimewa bagi
lawan jenisnya. Wanita pun sangat
sangat menjadi lahan perebutan bagi
kaum pria. Banyak tipe dan jenis wanita
yang ada di dunia ini, di antaranya jenis-
jenis wanita yang suka selingkuh.
Bagaimanakah tanda fisik wanita yang
suka selingkuh?
Salah satu tanda fisik yang dimiliki oleh
wanita yang sering melakukan
perselingkuhan adalah bentuk dagu yang
lebih besar dari wanita lain. Seperti yang
saya petik dari detikhot berikut ini:
Bentuk dagu perempuan yang besar
ternyata harus diwaspadai. Menurut para
ahli, ternyata perempuan berdagu besar
hobi berselingkuh.
Penelitian itu dilakukan oleh para
peneliti asal Amerika Serikat dan
Kanada. Mereka meneliti perempuan-
perempuan dari empat universitas.
Perempuan-perempuan tadi diberi
pertanyaan sekitar hubungan cintanya.
Dari hasil penelitian terlihat, perempuan
dengan bentuk dagu lebih besar lebih
sering berselingkuh.
Ternyata hormon adalah penyebab
fenomena tersebut. Lebarnya bentuk
dagu pada perempuan adalah karena
hormon testosteron (hormon laki-laki)
yang berlebihan.
Hormon itulah juga yang membuat
perempuan menjadi lebih agresif dalam
hal berhubungan. Namun seperti detikhot
kutip dari Fox News, Selasa (3/2/2009)
hal itu justru berbanding terbalik dengan
daya tarik perempuan tersebut.
Menurut survei yang dilakukan terhadap
para lelaki, perempuan yang memiliki
bentuk dagu besar kurang disukai. Untuk
pasangan hidup, lelaki lebih memilih
perempuan berdagu kecil.
Hal tersebut bisa jadi karena dagu besar
menunjukkan maskulinitas serta
dominasi pada perempuan. Sedangkan
lelaki lebih memilih perempuan yang
feminin dan berkesan lembut.
Harap hati-hati bagi kaum pria dalam
memilih pasangan hidupnya, namun hal
ini bukanlah satu-satunya tanda wanita
yang suka melakukan perselingkuhan
karena banyak faktor lain yang berperan.

Engkong [03:23 PM, 13-Oct-11]

Tapi Cut Tari berdagu besar........wkikiklol

--
Via MebApp.com

Fakta lain [06:45 AM, 25-Oct-11]

Tak akan pernah ada hubungan yang tidak dilanda masalah. Namun seharusnya perselingkuhan tak menjadi pelariannya. Walau begitu banyak pula orang yang terjebak di dalam lingkaran perselingkuhan.
Agar mencegah hal itu terjadi pada diri
Anda, sebaiknya simak beberapa fakta
mengenai perselingkuhan berikut.
1. Hubungan perselingkuhan lebih awet
ketimbang seks sesaat
Perlu Anda ingat, berselingkuh tak melulu
menuju pada hubungan seks. Justru
menurut penelitian, 60 persen responden
mengaku pernah menjalani 'hubungan
istimewa' dengan orang lain selain
pasangannya selama 1-6 bulan.
Sedangkan hanya 12 persen perempuan
dan 15 persen laki-laki yang mengaku
berhubungan seks dengan
selingkuhannya.
2. Perselingkuhan memiliki
kecenderungan terus berlanjut
Sebuah penelitian membuktikan bahwa
sekali orang pernah berselingkuh, maka
dia akan melakukannya lagi di kemudian
hari. Sebanyak 22 persen pria yang
menjadi responden penelitian mengaku
telah berselingkuh
berkali-kali, sedangkan 17 persen di
antaranya bahkan sudah berselingkuh
sebelum masuk ke dalam kehidupan
pernikahan.
Sedangkan 15 persen responden wanita
mengaku pernah menyelingkuhi
suaminya lebih dari 3 kali. Sebanyak 49
responden laki-laki yang mengaku hanya
berselingkuh satu kali, sedangkan jumlah
pada responden wanita yang hanya
berselingkuh satu kali adalah 55 persen.
3. Ketidakpuasan seksual seringkali
menjadi alasan
Kebosanan dan hilangnya ketertarikan
terhadap pasangan masih menjadi alasan
berselingkuh. Dari hasil penelitian
terbukti, hanya 31 persen wanita dan 25
persen pria yang mau membicarakan
masalah seksnya pada pasangan. Sisanya
memilih diam dan mencari pelampiasan
yang lain.
4. Perselingkuhan tak bisa dimaafkan
sepenuhnya
Mungkin ada banyak pasangan yang bisa
kembali utuh pasca kisah perselingkuhan
yang dialami. Namun menurut penelitian,
luka akibat pengkhianatan itu tak bisa
sepenuhnya sembuh. 43 persen pria dan
61 persen wanita membutuhkan waktu
kurang lebih satu setengah tahun untuk
melupakan pengkhianatan yang
dilakukan pasangannya. Sedangkan 11
persen pria dan 20 persen wanita
mengaku tak lagi merasakan cinta pada
pasangannya setelah diselingkuhi.
Perasaan cinta itu sudah berubah
menjadi benci.
Hasil penelitian ini tentu saja tak
selamanya benar. Namun fakta-fakta di
atas bisa menjadi bahan pertimbangan
Anda ketika hubungan yang dimiliki tak
berjalan di jalur yang benar.
Kunci sukses sebuah pernikahan adalah
rasa puas terhadap pasangan. Jika ada
kekurangan pada orang yang Anda cintai,
lebih baik didiskusikan. Jangan sampai
kekurangan yang Anda rasakan diisi oleh
orang lain.

nMHMCsvhnyjp [08:53 PM, 22-May-12]

informasi tentang seks, ini sanagt bagus sekali kalau diberikan kepada anak-anak remaja, supaya para remaja, tahu tentang bahaya seks bebas. dan dia akan berusaha berhati2 untuk tidak terjerumus kepada pergaulan bebas dan inipun harus dibantu juga oleh peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks sejak dini kepada anaknya.

Subscribe to comment feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images