PANGURAGAN

by EYANKGHAIB® on 12:59 AM, 26-Mar-10

Tanah kuburan Panguragan yang terletak di
Desa Panguragan, Kecamatan Arjawinangun,
Kabupaten Cirebon, memang sudah lama
tersohor di seantoro Jawa Barat (Jabar) dapat
menjadi media ilmu gaib. Banyak kalangan
dukun aliran sesat menggunakan tanah kuburan
Panguragan sebagai media guna-guna untuk
menghancurkan usaha seseorang. Benarkah …?
Guna-guna tanah kuburan Panguragan terkenal ganas serta sangat
jarang ada pengusaha yang sanggup bertahan. Setiap pengusaha yang
tempat usahanya ditanami tanah kuburan Panguragan dalam waktu
singkat dijamin bangkrut. Bukan hanya bangkrut, bahkan pengusaha
bersangkutan dililit hutang dalam jumlah besar hingga menjual
bangunan tempat usahanya.
Sejumlah pakar kebathinan di Kota Cirebon yang sempat dimintai
komentarnya seputar keganasan guna-guna tanah kuburan Panguragan,
rata-rata mereka mengaku sudah mendengar kabar tersebut sejak
lama, bahkan mulai kakek-buyutnya. Dengan demikian, tanah kuburan
Panguragan termasuk guna-guna cukup tua di Tatar Jawa Barat. Karena
ganasnya guna-guna tanah kuburan Panguragan, tidak aneh jika jadi
momok menakutkan bagi kalangan pengusaha, terutama pedagang.
Ki Anomjati Sanggabumi, seorang supranaturalis muda cukup tersohor di
Kota Cirebon, sewaktu dihubungi Penulis di Villa Kecapi Mas, Kelurahan
Harjamukti, Kota Cirebon membenarkan kabar seputar penyalahgunaan
tanah kuburan Panguragan untuk media guna-guna penghancur usaha.
“Penyalahgunaan tanah kuburan Panguragan jelas menyalahi syariat
Islam, sehingga dukun dan pihak yang menyuruhnya sangat berdosa
secara habluminallah maupun hablumminanas dan sebaiknya hindari
cara-cara sesat semacam itu, ” kata Ki Anomjati Sanggabumi.
Ken Nagasi, seorang budayawan sekaligus pemerhati dunia gaib cukup
terkenal di Kabupaten Cirebon mengaku prihatin atas praktik kotor
semacam itu. Sewaktu dihubungi di Sanggar Budaya “Nyi Mas
Gandasari” yang berlokasi di sekitar Stadion Bima, pria tampan warga
Desa/Kecamatan Sindanglaut, Kabupaten Cirebon ini kerap mengurut
dada tiap kali dia mendengar keluhan para mantan pengusaha
kenalannya yang bangkrut akibat praktik dukun sesat menggunakan
media tanah kuburan Panguragan.
“ Astaghfirullah, kenapa mesti menyengsarakan orang lain demi
kepuasan diri sendiri? Kenapa tidak bersaing secara sehat melalui
pemantapan manajemen ?” Seal Ken Nagasi.
Ibarat pepatah, tak ada penyakit yang tak ada obatnya. Jika diibaratkan
penyakit, guna-guna tanah kuburan Panguragan ternyata punya
tandingan. Jika belum gulung tikar, kondisi tempat usaha atau
perusahaan yang ditanami tanah kuburan Panguragan dapat dinetralisir
dengan ditaburi pada keempat sudut bangunan itu menggunakan pasir
kali Bayalangu.
H. Sator, seorang pakar supranaturalis terkenal di Desa Bayalangu,
Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, mengaku sudah sering
menolong pengusaha yang terkena guna-guna tanah kuburan
Panguragan. Melalui media pasir kali Bayalangu yang sudah dirituali,
secara alamiah dapat menetralisir pengaruh negatif tanah kuburan
Panguragan. Kecuali ada penanaman ulang dari pihak yang
melakukannya, maka mesti dilakukan penaburan ulang pasir kali
Bayalangu.
“ Tanah kuburan itu pun tidak bisa asal ambil oleh sembarang orang,
melainkan hanya bisa diaktifkan aura negatifnya oleh orang yang ahli di
bidang itu. Begitu pula pasir kali Bayalangu, dan secara kebetulan saya
mewarisi ritual pasir kali Bayalangu dari ayah saya, ” terang H. Sator.
Konon, dampak yang ditimbulkan bagi korban guna-guna tanah kuburan
Panguragan bukan hanya mengalami kebangkrutan usaha, namun
sepanjang malam mendapatkan teror gaib sangat mengerikan. Salah
satunya seperti dialami Udi bin Ujang, warga Kelurahan Karangmalang,
Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jabar. Dia bukan saja kehilangan kios
kue kering miliknya di “Pasar Baru” Tanjungpura karena dijual dan
menanggung hutang sekitar 20 jutaan namun, namun dia kini mesti
mengais rezeki di Arab Saudi sebagai driver.
Berikut ini adalah kisah nyata yang dituturkan oleh Udin bin Ujang
kepada Penulis. …
Sejak Jumat Kliwon hingga Sabtu Legi (18 – 19 Januari 2008), Ujang
duduk termenung di teras gedung pertemuan kompleks “Kinasih” di
Jalan Tapos, Kecamatan Cimanggis, Kabupaten Depok. Saat itu dia
bersama tiga rekannya masing-masing Toto, Sutejo dan Hendi
mengantar Drs. Khairuddin yang tengah mengikuti Rapat Kerja Nasional
(Rakernas) dengan Presdir PT. Guswara Intertaint, Agus Winarko,MSc.
Pria yang usianya beranjak senja dan berbadan subur itu memisahkan
diri dari hiruk-pikuk ratusan orang pengantar para peserta Rakernas.
Wajah yang sudah dipenuhi kerutan itu tampak kuyu seakan menyimpan
duka nestapa teramat berat.
Ujang duduk di atas tikar di bawah rindangnya pohon beringin hingga
memasuki dinihari. Pemandangan semacam itu, tentu saja sangat
kontras dan sangat tak lazim. Kepada Misteri, dia seperti berupaya
memuntahkan kegalauan hatinya seputar perjalanan usaha putra
sulungnya yang kini bangkrut dan gulung tikar.
Padahal, sejak “Pasar Lama” yang terletak di Jalan Ahmad Yani,
Kelurahan Lemah Abang, Kecamatan/Kabupaten Indramayu itu terbakar
pada Selasa (11 Juli 1995) pukul 09.00 WIB dan para pedagang direlokasi
ke pasar baru yang terletak di Jalan Tanjungpura, Kelurahan
Karanganyar, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, secara bertahap kios
kue kering milik Udi, anaknya, mengalami kemajuan. Setidaknya hingga
2005 silam, kios kue itu sangat populer dan setiap harinya selalu dijejali
pembeli.
Menyaksikan kemajuan usaha Udi, sejumlah kios yang semula menjual
dagangan lain diganti menjadi kios kue kering. Akibatnya, persaingan
pun semakin ketat sehingga calon pembeli kue kering tersebar ke
berbagai kios yang ada di Pasar Baru. Sejak saat itu, dari waktu ke
waktu, jumlah pembeli ke kios Udi terus berkurang. Tetapi, bagi Udi hal
itu dianggap sesuatu yang lumrah sesuai dengan hukum pasar.
Sekitar awal 2006, naluri Udi menangkap ada hal yang tidak wajar,
terutama setelah mendapatkan kiosnya benar-benar sepi. Bayangkan,
omzet dalam sehari hanya cukup buat menutupi kebutuhan dapur
keluarga.
Tragisnya, puluhan orang pelanggan kabur sambil membawa utang
dalam jumlah besar. Hal ini membuat Udi kalang kabut mencari dana
pinjaman buat menambal modal yang berkurang akibat ulah para
pelanggan yang nakal itu.
“ Bukan itu saja, pada bulan ke tiga 2006, Udi anak saya dan
keluarganya merasakan suatu gangguan gaib yang menciptakan rasa
takut, ” kisah Ujang dengan pandangan menerawang jauh.
Masih dalam bulan yang sama, sejumlah pedagang skoteng, bakso dan
lainnya yang biasa mangkal malam hari di sekitar Pasar Baru
Tanjungpura sempat menggunjingkan peristiwa gaib di sekitar kios kue
milik Udi. Mereka kerap menyaksikan sosok pocong alias mayat hidup
berkeliaran di teras kios kue milik Udi.
Gunjingan itupun akhirnya masuk ke telinga Udi. Untuk membuktikannya,
pada dinihari sekitar pukul satuan, seorang diri Udi menyelinap ke lorong
(los) Pasar Baru Tanjungpura yang berjarak sekitar satu kilometer dari
rumahnya.
Karena sudah dinihari, suasana pasar sangat sepi. Kalau pun ada
aktivitas hanya di sisi jalan alternatif penghubung Polsekta dengan
Markas Polres Indramayu, dimana terdapat warung nasi yang buka 24
jam.
Malam itu, berselang dua kios dalam posisi berseberangan, Udi
mengambil tempat pengintaian yang dirasa aman. Untuk bersembunyi,
dia duduk di balik tumpukan bekas kotak gula yang sudah kosong.
Berkat losion anti nyamuk, dia terbebas dari serangan serangan haus
darah itu. Lewat bantuan cahaya dari sudut kios, diliriknya jarum jam
tangan, saat itu sudah menunjuk pukul 1.15 menit. Sepasang matanya
menatap lurus ke arah kiosnya yang sengaja tidak diberi penerangan
sehingga suasana temaram sisa lampu dari kios lain di sebelahnya.
Dia meragukan gunjingan para pedagang ketika merasakan pantatnya
mulai penat akibat terlalu lama duduk di atas lembaran kardus bekas.
Ketika terlintas niat untuk pulang, detak jantung Udi mendadak terpacu.
Pandangannya lebih dipertajam. Ternyata benar, samar-samar dia
menyaksikan sosok mayat terbungkus kafan muncul dari balik
tumpukan kardus bekas snack yang disimpan di teras kios.
Pocong itu bergerak lembut dan makin lama makin jelas setelah terkena
sisa cahaya lampu dari kios sebelah. Rasa takut pun mulai merasuk
ketika pocong itu terlihat gelisah. Kepala pocong menoleh ke berbagai
arah diikuti gerakan tubuhnya. Udi yakin, keberadaannya sudah
diketahui mahluk alam gaib itu, sehingga sepasang sandal jepit pelan-
pelan dia lepas.
Nalurinya memang tepat. Pocong itu melompat-lompat tertuju ke
tumpukan bekas kotak gula di mana Udi bersembunyi. Ketika jaraknya
tinggal beberapa meter lagi, sekuat tenaga Udi melompat dari balik
tumpukan bekas kotak gula lantas lari menjauhi arah datangnya pocong.
Udi lari secepat yang dia mampu menuju ke arah warung nasi. Tanpa
perduli terhadap tiga tukang becak yang duduk santai di bangku kayu,
Udi menerobos memasuki warung dan disambut pekikan kaget pelayan
yang tengah terkantuk-kantuk.
Keesokan paginya, peristiwa itu dia ceritakan kepada istrinya lalu
kepada ayahnya. Ujang yang awam soal mahluk gaib, hanya memberi
saran supaya anaknya lebih mendekatkan diri kepada Allah dan
memperbanyak wirid.
Dari kios kue, teror itupun berpindah ke rumah Udi. Nyaris tiap malam,
isteri dan dua anaknya diteror suara-suara aneh dari serambi rumah
bahkan terkadang disertai bau busuk menerobos melalui celah daun
jendela.
Atas desakan isteri dan anak-anaknya, Udi minta izin kepada ayahnya
untuk numpang tidur sambil mencari jalan keluar. Ujang tidak bisa
menolak permintaan putranya, sehingga merelakan kamar depan yang
bersisian dengan ruang tamu ditempati Udi bersama keluarganya.
Sedangkan siang harinya, Udi membawa keluarganya kembali ke
rumahnya yang hanya beda gang dengan rumah orangtuanya itu.
Malam Selasa Kliwon bulan ke enam 2006, Ujang gelisah di tempat
tidurnya. Udara awal musim kemarau membuat gerah tak tertahankan.
Untuk mendapatkan udara segar, Ujang membuka daun pintu depan lalu
duduk santai di kursi ruang tamu. Saat jarum jam menunjuk pada angka
2 dinihari, muncul Udi dari ruang kholwat (tempat solat) yang bersatu
dengan kamar dapur.
Udi saat itu masih mengenakan sarung, peci dan baju koko serta tangan
kanan masih memutar tasbih. Keringat membasahi kening. Rupanya Udi
pun tak tahan kegerahan di ruang kholwat, sehingga memilih
melanjutkan wiridnya di ruang tamu.
Angin malam lumayan sejuk menerobos memasuki celah daun pintu
yang terbuka seperempat bagian. Di atas kursi busa yang mulai usang,
Ujang menyandarkan punggung dan meletakkan tengkuknya.
Aroma kantuk mulai merasuk. Sambil terkantuk-kantuk, Ujang
mengamati bagian ujung pintu pagar besi halaman rumah lewat celah
daun pintu. Sedangkan di sampingnya, Udi masih melanjutkan bacaan
wiridnya.
Dirasa tubuhnya mulai segar serta aroma kantuk mulai tak tertahankan,
Ujang bermaksud menutup daun pintu dan akan membanting punggung
di atas kasur melanjutkan tidur. Belum sempat mengangkat pantat,
lewat celah daun pintu dia melihat ujung pintu pagar besi bergerak
diiringi deritan lembut. Entah datang dari mana, ruang tamu dalam
sekejap sudah dipenuhi bau busuk sangat ganjil.
Bau busuk semakin menyengat. Belum sempat menduga-duga siapa
orang yang akan bertamu, daun pintu ditabrak dari luar hingga
membentur tembok menimbulkan suara gaduh. Suara benturan daun
pintu dengan tembok kontan mengejutkan Ujang dan Udi. Yang lebih
mengejutkan, di ambang pintu sudah berdiri sesosok mayat hidup alias
pocong.
Lewat cahaya lampu neon ruang tamu yang terang benderang, Ujang
menyaksikan kafan yang masih lengkap dengan ikatannya itu sangat
kusam penuh lumpur hitam. Kulit wajah mahluk itu tidak utuh lagi.
Sangat rusak, penuh borok-borok serta belatung bergerak lembut pada
sepasang rongga matanya. Dari lubang mulut dan hidungnya meluncur
lenguhan seperti sedang menahan marah.
Mahluk itu bukan menatap Ujang melainkan menghadap lurus ke arah
Udi. Diiringi lenguhan keras, mahluk itu menerjang ke arah Udi. Ujang tak
mampu berbuat banyak selain berjuang mempertahankan
kesadarannya supaya tidak pingsan.
Diserang mahluk seseram itu, secara refleks, sekuat tenaga Udi
menjejakkan sepasang kakinya ke atas lantai. Akibatnya, kursi yang dia
duduki terbalik dan tubuh Udi terjengkang ke belakang lantas jatuh
terduduk. Udi hanya mampu membuka mulut, tapi lafadz ayat Qursy
sama sekali tidak pernah mau keluar. Yang meluncur dari
kerongkongannya hanya suara menyerupai orang gagu.
Air hangat sangat deras mengucur dari balik kain sarung. Akibatnya dia
berkubang pada genangan air kencingnya sendiri. Sama halnya ayahnya,
Udi pun hanya berjuang agar jangan sampai pingsan. Dia yakin, mahluk
itu bukan semata menakut-nakuti melainkan mengancam jiwanya.
Saat jaraknya tersisa beberapa senti lagi, Udi ingat kalau tasbih di
genggamannya itu pemberian dari seorang ustadz. Dia berharap benda
itu bukan semata alat penghitung wirid. Tanpa berharap banyak, tangan
kanan yang semula menyanggah tubuhnya yang jatuh terduduk dia
angkat tinggi-tinggi menyongsong terjangan pocong sambil merapatkan
kelopak mata.
Dia sudah benar-benar pasrah. Benaknya berkata, mungkin hanya dalam
hitungan detik, lehernya akan digigit mahluk itu sehingga urat nadinya
putus lalu mati. Tapi hingga belasan detik berlalu, tak ada sesuatu yang
menyentuh lehernya. Ditunggu beberapa menit berikutnya tak ada
serangan mematikan dari mahluk berwujud pocong itu. Udi menjerit
ketika lengannya dibetot sangat keras. Ketika membuka mata, ayahnya
tengah berjuang mengangkat tubuhnya.
“ Pocong tadi terpental saat menyentuh tasbih di genggamanmu! Ayo.
bangun!” Kata Ujang, setengah membentak.
Udi langsung bangkit dan melompat menuju ambang pintu. Tergopoh-
gopoh daun pintu dibanting hingga tertutup rapat sekaligus
menguncinya. Anak beranak itupun hanya mampu berpandangan. Udi
baru sadar kalau sarungnya basah kuyup setelah diberitahu ayahnya,
maka buru-buru dia ke kamar mandi.
Keesokan harinya, dengan diantar ayahnya, Udi menyambangi seorang
ulama di Lohbener. Ujang menyerahkan sisa tanah bekas pocong yang
tercecer di atas lantai ruang tamu. H. Abbas, sang ulama, menggenggam
sisa tanah hitam itu sambil memejamkan mata dan bibir komat-kamit.
Mendadak keningnya berkerut tajam lalu membuka kelopak matanya.
“ Astaghfirullah, mahluk itu khodam guna-guna tanah kuburan
Panguragan. Untung kalian tidak sampai pingsan… jika sampai pingsan,
naudzubillah, hanya Allah yang tahu terhadap batas umur mahlukNya,”
terang H. Abbas.
Sesaat berikutnya, H. Abbas minta izin masuk ke kamar kholwat. Belasan
menit kemudian muncul lagi dengan wajah penuh keringat. Dengan
suara serak, H. Abbas menyarankan agar kios kue itu secepatnya dijual.
Menurut mata bathinnya, kios itu sudah ditanami tanah kuburan
Panguragan sejak enam bulan lalu. Tapi, ulama khos itu tidak bersedia
menyebutkan identitas orang yang telah mengguna-gunai kios Udi.
Atas saran H. Abbas, sebulan kemudian kios itu dijual murah kepada
pemilik kios di sebelahnya. Uang hasil menjual kios itu digunakan oleh Udi
untuk mengurangi utangnya. Dalam keadaan tak punya modal sesenpun,
Udi terpaksa ikut kerja jadi kuli bangunan hanya sekadar untuk
menutupi kebutuhan dapur, dan sejak awal 2007, Udi terbang ke Arab
Saudi menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bagian driver.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

18 responses to "PANGURAGAN"

Benny [02:36 AM, 26-Mar-10]

Cuy gw minta [color=red]theme[/color] blog yang gaul donk

Eyank Ghaib [02:48 AM, 26-Mar-10]

lah...kirain lg baca panguraganbiggrin Nanti ya nduk....eyank akan sedekahkan beberapa themes yg eyank punyabiggrin

Ryan [06:54 AM, 26-Mar-10]

Eyank aq minta theme lg donk. biggrin,biar yg gau bukan cm eyank aja

virgo [06:57 AM, 26-Mar-10]

Sdkit modif jadi jg theme nya biggrin ,cory ea eyank..ga ijin dlu

Blacksweet [01:56 PM, 26-Mar-10]

Serem........
Awas yg njiplak theme, nanti bekgrondnya gambar pocong :mrgree:

Perdana [12:46 AM, 27-Mar-10]

[img]http://www.freesmileys.org/emoticons/emoticon-games-012.gif[/img]
jadi merinding , truz yg beli kios itu gimana, masih didatangi pocong ?

Bajaj chatbox [12:46 AM, 27-Mar-10]

weh-wehhh,eyank! tiap kali aku masuk ke blog eyank rasanya aku gak ingin pulang kmbali...aku betah tidur di blog eyank,dgn pariasi theme yg slalu di gunta ganti..o ya eyank klu bisa tlong dong tulis artikel tntang cara memodif theme.biar yg lain jg ikut gaul gitu

Bajaj chatbox [12:46 AM, 27-Mar-10]

weh-wehhh,eyank! tiap kali aku masuk ke blog eyank rasanya aku gak ingin pulang kmbali...aku betah tidur di blog eyank,dgn pariasi theme yg slalu di gunta ganti..o ya eyank klu bisa tlong dong tulis artikel tntang cara memodif theme.biar yg lain jg ikut gaul gitu

Eyank Ghaib [01:16 AM, 27-Mar-10]

Biasanya kios yg udah kena dan tidak di obati akan berlanjut ke pemakai berikutnya8)

Eyank Ghaib [01:22 AM, 27-Mar-10]

@Bajaj chatbox...eyank dh punya rencana utk itu nduk?biggrin

Awang [11:48 AM, 27-Mar-10]

serem, jadi merinding. boleh request theme gak?? cz gw gak punya wapsite untuk bikin file cssnya, tolong krim link css nya ke awang.haldis@gmal.com ato coment aja di banjarharum.mywapblog.com
aku tunggu lho..

Benny [03:03 AM, 29-Mar-10]

Boleh gx minta [color=blue]theme[/color]nya tlong krimin link css ke
plonga.Plongo@gmail.Com
gw tnggu ych soalnya gw msih pakai theme bawaan nih

Eyank Ghaib [03:26 AM, 29-Mar-10]

Silahkan ambil alamatnya di post comments 'Border style'biggrin

kula [08:18 PM, 24-May-10]

Apa akibatnya pelaku menyebatrkan tanah kuburan ini ?

-a [06:29 PM, 05-Jun-10]

Beneran gag critanya tuh pak De?? Seyeeemm bgt ... [img]http://bantir.xtgem.com/ngacir.gif[/img]

Mint [05:59 AM, 30-Jun-10]

eyank tw g kbrx ina. aq udh lama mencarix kalo tw hub aq 085824011112.

Teguh182 [02:35 AM, 27-Jul-10]

Lam kenal dr cirebon http://teguh182.jw.lt all free

Bocah goblog ngwe alamat we ra becus, krepe kpriwe? [09:24 PM, 24-Dec-10]

Njaluk di kprwekna, di obrax abrik pa?
By:jemadi.redjep.sawal.parkio.ki nasom.pajeri.dkk

Subscribe to comment feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images