Ketika Suami Tak Lagi Dihormati Istri

Di posting oleh EYANKGHAIB® pada 03:34 PM, 04-Sep-12

pak-tua.jpg

Lelaki itu belum terlalu tua jika dilihat dari usia namun gangguan pikiran telah membuatnya terlihat sangat tua. Jika melihat penampilannya, tak sedikit orang yang memanggilnya kakek. Rambutnya acak-acakan dan banyak yang memutih, tubuhnya yang kurus kering, serta matanya yang tak lagi garang hanya menyisakan tatapan sendu kala memandang dari teras rumahnya. Setiap hari dia hanya duduk termangu di teras rumahnya. Menikmati segelas kopi dan koran yang di beli dari penjual keliling. Hidangan kopi dan koran jarang tersedia untuknya. Hanya jika anaknya ada dirumah. Salmiah, anak gadisnya yang kuliah di kota, jika libur selalu kembali kerumah dan melayaninya dengan penuh kasih. Dulu, Pak Sarman itu tinggi besar.Pamanku mulai bercerita. Aku baru tiga hari berkunjung kerumah paman. Rumah paman berhadapan dengan rumah Pak Sarman. Rumah mereka terpisah oleh sebuah jalan besar. Sambil menikmati teh hangat dan sukun goreng, aku duduk menyimak cerita paman. Aku sangat tertarik karena setiap pagi aku melihat lelaki itu duduk saja di teras. Sebagai perempuan banyak hal yang ingin aku gali dari pengalaman hidup paman atau orang-orang yang dikenalnya termasuk pengalaman lelaki tua yang menjadi tetangga paman.Pak Sarman dulu punya bisnis yang besar di pasar. Suatu hari ada kerabatnya yang mengajak join usaha dengan cara menyetor modal. Pak Sarman terbuai dengan keuntungan yang besar,mempertaruhkan semua modalnya. Sayang sekali, usaha itu tidak berhasil alias bangkrut. Pak Sarman lalu menjual kiosnya dan mencoba usaha kecil-kecilan, tapi tidak sukses. Sejak hari itu pak Sarman jadi seperti orang stress. Dia kehabisan akal untuk memulai usaha lagi.

Istrinya yang semula tidak bekerja, akhirnya memilih jadi TKI. Setelah 10 tahun, istrinya kembali dan membuka toko. Toko yang besar disana itu, milik istrinya. Tapi sejak kembali, istri pak Sarman berubah 180 derajat. Dia tidak mau lagi bersama pak Sarman. Toko tingkat 3 itu ditempati istri dan anak-anaknya. Hanya Salmiah yang begitu sayang pada ayahnya. Tiap kali pulang dari kota, dia selalu menemani ayahnya. Aku terenyuh mendengar cerita paman. Apa mereka bercerai paman? Tidak. Menurut istri Pak Sarman, pernikahannya dengan Pak Sarman karena paksaan orang tuanya. Pak Sarman menurutnya juga sangat kasar dan suka marah-marah. Kekerasan rumah tangga sering terjadi. Istri Pak Sarman tak tahan lagi. Dia memilih berpisah saja dengan Pak Sarman. Tapi atas permintaan anak-anaknya, mereka tidak bercerai. Apa benar begitu ya, paman. Entahlah, itu masalah rumah tangga mereka. Kita sebagai orang luar hanya bisa menjadi penonton. Benar kata paman. Orang luar tak bisa menilai secara sepihak. Melihat keadaan Pak Sarman dan istrinya, tentulah orang akan jatuh kasihan pada pak Sarman dan menganggap istrinya tidak punya perasaan. Setelah sukses lupa dengan suami, malah meninggalkan suami yang tak lagi bisa mencari nafkah untuk dirinya apalagi untuk keluarga. Padahal kita belum tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Bagaimana kehidupan istri pak Sarman setelah kebangkrutan suaminya. Latar belakang hingga dia bisa bangkrut. Semua tidak jelas. Hanya mereka yang tahu. Kejadian seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Ketika suami tak lagi mampu mencari nafkah atau ketika penghasilan istri lebih besar dari suami,terkadang suami merasa (atau memang kenyataannya) telah diabaikan oleh istrinya. Kejadian yang beragam namun satu versi, suami (merasa) tak lagi dihormati istrinya. Sebagai kepala rumah tangga, hal tersebut tentu menyakitkan. Namun kembali, kita hanya bisa menyimak dan menjadikan pelajaran segala hal yang terjadi disekitar kita. Semoga kejadian serupa tak menimpa rumah tangga yang telah kita bina dengan penuh kasih sayang. Semoga bisa diambil hikmahnya dari kejadian diatas.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar