Bolehkah Menghilangkan Sihir Dengan Sihir?

Diposting oleh EYANKGHAIB® pada 13:56, 07-Mei-11



(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah
Abdurrahman Mubarak)
Tak sedikit masyarakat kita yang
demikian bergantung dengan sihir. Dari
yang ‘sekadar’ untuk ‘pagar’ agar tidak
‘diganggu’ saingan bisnisnya, berobat
dari penyakit ‘kiriman’, ‘menundukkan’
orang yang disukainya, hingga yang
menganggapnya sebagai cara ‘aman’
untuk melampiaskan dendam atau sakit
hati.
Di antara fenomena yang merebak di
tengah masyarakat kita adalah praktik
perdukunan dan sihir. Sangat ironis
memang, di zaman yang katanya
“ modern”, semakin banyak orang tak
percaya diri hingga merasa “butuh
bantuan” para dukun dan tukang sihir.
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Tidak
heran mereka tega mengirim sihir
kepada orang-orang yang didengki dan
dimusuhinya dalam rangka
mencelakainya.
Makna Sihir
Abu Muhammad Al-Maqdisi t
menerangkan: “Sihir adalah jampi-jampi,
mantera, dan buhul-buhul yang
berpengaruh pada hati dan badan,
menyebabkan sakit dan kematian, serta
bisa menjadi sebab retaknya hubungan
suami istri dan menghalangi seseorang
dari istrinya hingga tidak bisa
‘mendatanginya’. Termasuk sihir juga
adalah memisahkan antara seseorang
dengan istrinya, membuat benci salah
satunya, atau menumbuhkan ‘cinta’ di
antara dua orang.”
Dijelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin
t:
Sihir secara bahasa adalah segala sesuatu
yang sangat lembut dan tersembunyi
(samar) sebabnya.
Adapun secara syar ’i, sihir terbagi
menjadi dua bagian:
1. Buhul dan jampi-jampi, yaitu bacaan-
bacaan yang dengannya tukang sihir
minta bantuan kepada para setan.
2. Sihir dengan menggunakan obat-
obatan dan semisalnya, memengaruhi
badan, akal, dan kecenderungan orang
yang terkena sihir.
Beliau jelaskan bahwa sihir jenis yang
pertama adalah syirik, sedangkan yang
kedua adalah ‘udwan (permusuhan dan
kezaliman). (Disarikan dari Al-Qaulul
Mufid Syarah Kitab At-Tauhid)
Macam-macam Sihir
Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad
Al-Imam bahwa sihir ada tiga macam:
1. Sihir hitam
2. Sihir merah
3. Sihir putih
Sihir hitam dan sihir merah terwujud
dengan mencerca Allah l, Rasul, dan ayat-
ayat-Nya, serta merusak kehormatan Al-
Qur ’an. Oleh karenanya seorang penyihir,
Ath-Thuhi, menyebutkan dalam kitabnya
(sihir merah) beberapa perkara yang
dilakukan tukang sihir. Di antaranya:
Menulis ayat-ayat Al-Qur ’an dan
meletakkannya di tempat-tempat
terlarang, seperti betis orang sakit
bahkan di kemaluan wanita.
Na ’udzubillah.
Sedangkan sihir putih adalah jampi-
jampi yang mengandung kesyirikan
untuk menolak sihir dan lainnya. (Lihat
Irsyadun Nazhir ila Ma ’rifati ‘Alamati Sihr
karya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam)
Mengenal Ciri Tukang Sihir
Mengetahui tanda-tanda tukang sihir
menjadi perkara yang demikian penting.
Karena untuk membedakan manusia
yang satu dengan yang lainnya adalah
dengan mengetahui tanda-tandanya di
mana menyebutkan tanda-tanda orang
yang berbuat kezaliman adalah tuntunan
syariat. Allah l berfirman:
“ Dan demikianlah kami terangkan ayat-
ayat Al-Qur’an dan supaya jelas jalan
orang-orang yang shalih, dan supaya
jelas (pula) jalan orang-orang yang
berdosa." (Al-An'am: 55)
Dengan mengetahui tanda-tanda tukang
sihir maka seorang muslim akan
waspada dari kejahatan mereka. Asy-
Syaikh Muhammad Al-Imam
hafizhahullah menerangkan kepada kita
beberapa ciri tukang sihir. Di antara yang
beliau sebutkan:
1. Tukang sihir memisahkan (merusak
hubungan) seseorang dengan istri,
saudara, atau temannya.
2. Mengaku bisa menyatukan dua orang
yang telah berpisah serta merukunkan
dua orang yang berselisih. Ketahuilah,
tidak ada yang mampu mendatangkan
rasa cinta kecuali Allah l.
3. Memberikan kertas yang padanya
tertulis ayat-ayat Al-Qur ’an setelah
ditetesi darah atau disobek sebagiannya.
Di antara perkara yang sangat samar,
tukang sihir menulis beberapa ayat Al-
Qur ’an dan doa-doa berbahasa Arab
sehingga orang yang hatinya sudah
terpikat akan tertipu dan berkata bahwa
si tukang sihir mengobatinya dengan Al-
Qur ’an dan doa-doa. Padahal
sesungguhnya mereka (tukang-tukang
sihir) meletakkan satu tetes darah haid
atau darah anjing atau lebih di bawah
lembaran tadi. Padahal ini –darah haid
atau darah anjing– adalah darah yang
najis, karena tujuan mereka adalah
mencari keridhaan setan.
4. Menipu dengan menggunakan obat-
obatan.
Di antara cara yang sangat samar
dilakukan oleh tukang sihir dan banyak
kaum muslimin tidak mengetahuinya,
ketika (tukang sihir) hendak
menghilangkan sihir dari seseorang,
mereka memberikan kepada ‘pasiennya’
obat-obatan yang biasa dijual di apotek
atau toko obat. Hingga yang terkena sihir
tersebut bisa ‘mendatangi’ istrinya
kemudian mengira (hal ini) dikarenakan
obat tersebut. Ia tidak tahu bahwa
sesungguhnya hal itu terjadi karena cara
yang busuk dan berbahaya, yaitu tukang
sihir tersebut bersepakat dengan jin
untuk masuk ke kemaluan pria tersebut
dan menjadikannya ‘kuat’.
5. Meminta nama si sakit, nama anak
atau ibu.
Ketika datang seorang yang sakit, tukang
sihir tadi berkata kepadanya: “Siapa
namamu dan nama ibumu?” Ketahuilah
dia adalah munajjim (ahli nujum), dan
munajjim adalah tukang sihir.
6. Mengklaim telah mengetahui keadaan
yang sakit sebelum diberitahu.
Di antara tanda seorang itu adalah
tukang sihir, ketika datang kepadanya
seseorang yang mengeluhkan sakit,
pencurian atau kehilangan barang,
tukang sihir tersebut telah
mendahuluinya dengan menyatakan:
“ Namamu adalah ini, asalmu ini,
masalahmu ini.” Sehingga tercengang
dan kagumlah si sakit tersebut.
7. Sebagian tukang sihir mengaku bisa
menyembuhkan orang sakit dengan
semata meraba dengan tangannya.
8. Di antara tanda seorang itu adalah
tukang sihir adalah menulis ayat-ayat Al-
Qur’an secara terbalik.
9. Tukang sihir mengaku bisa menjaga
janin dari keguguran.
(Ini adalah sebagian kecil yang kami
sarikan dari kitab beliau, untuk
tambahan faedah lihat Irsyadun Nazhir,
hal. 16-43)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam
hafizhahullah menyimpulkan:
“ Tukang sihir adalah sebuah istilah yang
meliputi ahli nujum, dukun, peramal –
yang mengklaim mengetahui barang
yang dicuri, barang hilang, dan yang
semisalnya –. Keempat kelompok ini –
yakni tukang sihir, ahli nujum, dukun,
dan tukang ramal – mayoritasnya adalah
penyembah jin dan setan….” (Lihat
Irsyadun Nazhir, hal. 10)
Hukum Tukang Sihir
Hukum tukang sihir adalah dibunuh,
sebagaimana telah dinyatakan oleh tiga
orang sahabat: Umar, Hafshah, dan
Jundub g. Namun sebagian mereka
(tukang sihir) dibunuh karena hukum had
dan sebagiannya dalam rangka
mencegah kejahatannya. (Tentang
masalah hukum sihir dan pelakunya bisa
dilihat di rubrik Akidah pada Asy-Syariah
Edisi 08 dan 09 Vol. I/1425 H/2004)
Sumber Ilmu Sihir di kalangan Kaum
Muslimin
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam
hafizhahullah menerangkan bahwa
sumber penyebarannya ada lima:
1. Orang-orang Yahudi, mereka adalah
sumber kuat tersebarnya sihir.
2. Kaum Rafidhah, ini terbukti dalam
buku-buku mereka seperti Miftah Al-Lauh
wal Qalam.
3. Kaum sufi, juga terbukti dalam buku-
buku mereka di antaranya buku yang
berjudul Syamsul Ma’arif Al-Kubra.
4. Tokoh-tokoh ilmu kalam.
5. Disebar dan diperjualbelikannya buku-
buku tentang sihir.
(Lihat Irsyadun Nazhir hal. 54-64)
Bolehkah Menghilangkan Sihir dengan
Sihir?
Telah ada jawaban dari Rasulullah n
tentang masalah ini. Diriwayatkan dari
Jabir z, Rasulullah n ditanya tentang
masalah nusyrah. Beliau berkata: “Itu
adalah amalan setan.” (HR. Ahmad, Abu
Dawud, dan lainnya. Lihat Shahih Abu
Dawud)
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata: ”An-
Nusyrah adalah menghilangkan sihir
dengan sihir. ” (Syarh Kitab At-Tauhid hal.
145)
Beliau t juga berkata: “Mengobati sihir
dengan perbuatan tukang sihir yang
bertaqarub kepada jin,
mempersembahkan sembelihan
kepadanya, atau taqarub lainnya,
tidaklah diperbolehkan. Karena itu
adalah perbuatan setan dan termasuk
syirik besar, wajib berhati-hati darinya.
Juga tidak boleh mengobati sihir dengan
bertanya kepada dukun, paranormal,
serta mengikuti ucapan mereka. Karena
mereka adalah orang-orang yang tidak
beriman, orang-orang pendusta yang
fajir (jahat), yang mengaku mengetahui
ilmu ghaib, dan mengelabui manusia.
Rasulullah n telah memperingatkan untuk
tidak mendatangi, bertanya apalagi
membenarkan mereka, sebagaimana
telah dijelaskan di awal risalah ini.
Terdapat hadits shahih bahwasanya
Rasulullah n ditanya tentang nusyrah,
maka beliau menjawab: ‘Itu adalah
perbuatan setan.’ Hadits ini diriwayatkan
oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud
dengan sanad yang jayyid. Nusyrah
adalah menghilangkan sihir dari orang
yang terkena sihir. Maksud ucapan beliau
n adalah nusyrah yang dilakukan orang
jahiliah, yakni meminta kepada tukang
sihir untuk menghilangkan pengaruh sihir
dari seseorang atau menghilangkannya,
dengan sihir yang semisal oleh tukang
sihir lainnya. ” (Lihat Hukmu As-Sihr wal
Kahanah, hal. 14-15)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata:
“ Ketahuilah wahai kaum muslimin,
bahwa pendapat yang kuat dari sekian
pendapat para ulama adalah tidak boleh
mengeluarkan (mengobati sihir) dengan
cara tukang sihir, berdasarkan ucapan
Rasulullah n ketika ditanya tentang
nusyrah:
‘Itu adalah perbuatan setan.’ (HR. Ahmad
no. 3868, Abu Dawud 1/294, dari Jabir z
dan lainnya)
Hadits ini merupakan jawaban yang jelas
menerangkan perkara yang tidak
diketahui kebanyakan orang. Hadits ini
memberikan faedah bahwa
menghilangkan sihir dengan sihir adalah
perbuatan meminta bantuan kepada
setan. Setan tak akan melakukannya
kecuali dengan imbalan, yaitu seseorang
mau beribadah kepadanya, sehingga
perkaranya adalah kekufuran. Saya kira,
semua yang mengetahui masalah ini dan
mendengar hadits ini, akan tegas
menyatakan bahwa menghilangkan sihir
dengan meminta bantuan tukang sihir
adalah haram." (Lihat Irsyadun Nazhir,
hal. 83-84)
Bahaya yang ada ketika seorang pergi ke
tukang sihir untuk menghilangkan sihir:
1. Orang yang pergi ke tukang sihir ikut
serta bersamanya dalam menyembah
setan.
2. Seringnya, sihir tidak mampu
menghilangkan sihir.
3. Perginya seseorang yang terkena sihir
ke tukang sihir yang tidak menyihirnya,
tidak akan bisa berpengaruh apa-apa.
(Lihat Irsyadun Nazhir)
Cara Syar ’i untuk Menghilangkan Sihir
Ibnul Qayyim t berkata:
“ An-Nusyrah adalah menghilangkan sihir
dari orang yang terkena sihir. Ada dua
macamnya:
1. Menghilangkan sihir dengan sihir, ini
termasuk amalan setan. Kepada makna
inilah kita bawa ucapan Hasan (Al-
Bashri) bahwa orang yang mencoba
menghilangkan sihir dan pasiennya
bertaqarub kepada setan dengan apa
yang dikehendaki setan hingga hilang
sihirnya.
2. Macam yang kedua: menghilangkan
sihir dengan ruqyah dan dzikir-dzikir,
obat-obat serta doa yang mubah. Cara
yang kedua ini dibolehkan. ”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata:
” Adapun menghilangkan sihir dengan
cara yang syar’i telah dibolehkan oleh
para ulama dan orang yang memiliki
bashirah serta orang yang punya
pengalaman dalam masalah ini. ” (Syarh
Kitab At-Tauhid)
Beliau t berkata pula: ”Di antara
pengobatan yang bermanfaat terhadap
sihir adalah dengan berusaha mencari
tempat diletakkannya sihir: di tanah,
gunung, atau selainnya. Jika telah
diketahui, maka dikeluarkan, serta
dimusnahkan sehingga akan hilang sihir
tersebut.” (Lihat Hukmu As-Sihr Wal
Kahanah, hal. 14)
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t
pernah ditanya tentang hukum
menghilangkan (menjauhkan) sihir dari
yang terkena sihir. Beliau t menjawab:
” Jika dilakukan dengan (membacakan)
ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang
syar’i, tidaklah mengapa. Karena Nabi n
pernah berkata:
’ Barangsiapa mampu memberikan
manfaat bagi saudaranya hendaknya ia
lakukan... ’.” (Lihat Fatawa ’Aqidah, 1/84)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam
menerangkan beberapa cara syar’i untuk
menghilangkan sihir dari orang yang
terkena sihir. Di antaranya:
- Banyak membaca Al-Qur ’an
- Banyak berdoa
- Mengeluarkan sihir
- Menggunakan obat mubah yang baik.
(Lihat Irsyadun Nazhir hal. 94)
Menjaga Diri dari Sihir
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam
menyebutkan beberapa perkara yang
akan menjadi sebab seorang terhindar
dari sihir. Di antaranya:
1. Takwa kepada Allah l
2. Tawakal kepada-Nya
3. Merutini dzikir-dzikir yang syar ’i
4. Meyakini bahwa tukang sihir adalah
pendusta
5. Memperingatkan orang lain dari
tukang sihir
6. Mengusir mereka dari tempat mereka
berada
7. Wajib bagi penguasa negeri muslimin
untuk menegakkan hukum had terhadap
tukang sihir.
Asy-Syaikh bin Baz t menerangkan:
“ Perkara yang bisa menjaga dari bahaya
sihir sebelum terjadinya, yang terpenting
dan paling bermanfaat adalah: menjaga
diri dengan dzikir-dzikir syar ’i dan doa-
doa yang syar’i. Di antaranya juga
dengan membaca ayat kursi setiap
selesai shalat wajib. ” (lihat Hukmu As-
Sihr karya Asy-Syaikh Ibnu Baz t hal. 9)
Demikianlah sedikit permasalahan sihir
dan pengobatannya yang bisa kami
paparkan, mudah-mudahan bermanfaat.
Walhamdulillah.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

4 tanggapan untuk "Bolehkah Menghilangkan Sihir Dengan Sihir?"

Riyan Hidayat pada 14:18, 07-Mei-11

Patamo

EYANKGHAIB® pada 16:21, 07-Mei-11

Kaduo.....biggrin

Aby Saffa pada 18:37, 09-Mei-11

[h1]ke empot[/h1]wink

LEDEZBINLUDEZ pada 17:59, 14-Mei-11

WELEH..SERAHKAN SEGALA SESUATU PD AHLI NYA..KENA SIHIR BRUBAT K DOKTER Y GAK BAKALAN SEMBUH GAN.. HUEHEHE...

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar