Bertemu Kakek Misterius di Gunung Lawu

by EYANKGHAIB® on 03:16 PM, 03-Feb-13

13559234931680273909.jpg Sebenarnya awalnya sama sekali tidak ada niatan untuk mendaki Gunung Lawu, tujuan utama kami adalah Telaga Sarangan, Magetan dan Grojokan Sewu di Tawangmanggu, Karang Anyar. Lagi pula kami juga tidak membawa bekal memadai untuk sebuah pendakian. Pada awalnya kami berencana pagi-pagi sekali mau berangkat dari Tuban, setidaknya sebelum tengah hari sudah sampai telaga Sarangan. Karena ada satu hal, seorang teman satu rombongan kesulitan mendapat ijin dari kantor dia bekerja, baru jam 11 siang kami berangkat dari rumah. karena mobil masih longgar untuk rombongan awal 6 orang, iseng-iseng saya ngontak sahabat saya, yang kebetulan bisa bawa mobil asumsi saya bisa saya ajak gantian nyetir pada nantinya. Perjalanan yang diringi hujan semenjak dari Bojonegoro menuju Ngawi tak mengurangi keceriaan kami. Karena kami baru sampai di telaga sarangan sudah sore, jam 16.30, niat awal itu kami urungkan, rencanannya sekembali dari Tawangmangu saja kami mampir ke Sarangan, lagi pula waktu itu hujan lumayan lebat. akhirnya kami sepakat untuk ke Tawangmangu dulu. Karena seharian belum sempat mengisi perut di kawasan Cemoro Sewu kami berhenti sejenak untuk cari makan dan tentu saja ‘ngopi’. Setelah memesan kopi yang kami tuang dalam tremos untuk bekal begadang, kami pun bersiap meneruskan perjalanan. Entah kenapa, sebelum sempat kami meneruskan perjalanan, 4 rekan mengajak naik ke Gunung Lawu. Lagi-lagi rencana berubah. Akhirnya kami sepakat untuk naik ke Gunung Lawu. Tanpa bekal yang memadai. Alias Nekat. Hujan tak menyurutkan niat kami, ibarat kata semangat kami pada waktu itu adalah semangat 45. Antusias dan membara betul. Dan kami semua sama sekali tidak terlatih atau pernah mendaki gunung sebelumnya. Berbekal informasi kecil dari petugas yang ada di pos Cemoro Sewu dan membeli mantel plastik seharga Rp. 10.000, lepas sholat maghrib bertujuh kami menembus hujan naik ke gunung Lawu. Menyusuri jalan setapak yang sudah di beri batuan gunung kami berandai-andai jika perjalanan sampai ke puncak Lawu akan bisa kami tempuh dalam beberapa jam kedepan. Pekat malam, dan kami hanya berbekal satu lampu senter, kami harus berhemat dengan baterainya. Kalau tidak penting betul kami tidak menyalakan senter satu jam perjalanan kami sampai pada Pos istirahat. Kami kira itu adalah Pos 1. Ternyata belum. Masih jauh. Satu jam lagi perjalanan. Nyali kami jadi ciut, antara meneruskan perjalanan atau kami kembali turun. Sedang bekal air pun tinggal setengah botol. Memang benar adanya, banyak hal yang aneh-aneh dalam gunung Lawu. Mulai dari burung merpati putih yang mengikuti kami semenjak dari Cemoro Sewu. Padahal waktu itu hujan. Ngapain itu burung berhujan-hujan ria. Gamang juga meski bertujuh. Sesekali di sekitar lembah juga sepeti ada orang yang tertawa, membuat begidik. Seperti ada keceriaan di sana. Ada yang unik jiga ketika kami berhenti di jalan yang agak landai dan lumayan lapang karena pepohonan banyak yang tumbang, tremos yang berisi kopi tiba-tiba saja berpindah tempat dari tempat kami beristirahat. Rekan kami yakin dia tidak menaruhnya di situ. Tapi disampingnya dan ditinggal buang air kecil. Alam rupa-rupanya kurang bersahabat, hujan kian lebat. dengan susah payah akhirnya kami sampai juga di Pos 1. Dari orang yang turun dari puncak kami mendapat informasi agar kami mengurungkan dulu perjalanan ke puncak dan diteruskan saja pagi harinya. Kami sepakat untuk bermalam di pos 1. Lagi pula di pos 1 tersebut ada warung dan kami bisa membeli bekal untuk kami bawa ke puncak esok harinya. Warung tersebut buka pada pagi dan tutup menjelang maghrib. Berbekal makanan ringan yang sempat kami beli di perjalanan kami bermalam di POS 1. Dari sinilah cerita ini dimulai…….. Sesampai dilokasi POS 1 kami langsung berbagi tugas, ada yang bertanggung jawab membersihkan lokasi, dan mencari kayu bakar. Tapi mustahil kami mendapatkan kayu yang kering pada saat hujan speperti itu. Sebenarnya ini bukan tugas saya, tapi karena 3 rekan kami tidak mendapatkan kayu yang kering dan kembali dengan tangan hampa. Akhirnya saya dengan sahabat saya berinisiatif mencari kayu bakar di sekitaran warung di bawah pos 1 tempat kami bermalam. Namun sial, tak satu dahan dan ranting kami temukan. Terdorong rasa jengkel dan kebutuhan penting untuk ‘berdiang’ menghilangkan hawa dingin. Berdua kami semakin menurun lembah dibelakang warung tersebut. lagi-lagi semua kayu yang kami temui basah, buah dari keras kepala dan tidak menerima logika! Karena sudah kepalang tanggung, berdua kami lebih turun lagi ke lembah yang dipenuhi pohon pinus, apalagi hujan sudah reda. Dan alhamdulillah, setelah kami masuk agak ke dalam hutan pinus tersebut, baru beberapa potong kami temui ranting-ranting pinus yang lumayan kering, namun teta saja agak basah. Namun ketika kami sedang sibuk-sibuknya mencari kayu dengan lampu senter, tahu-tahu ada ada seorang kakek menegur sahabat saya yang memang ada di depanku. “Golek kayu bakar dinggo opo toh, Lee (cari kayu bakar untuk apa toh, Nak)?” tanya kakek tersebut. Jujur, saya sangat terkejut dengan keberadaan si Kakek yang tiba-tiba, bukan sahabat saya yang menjawab pertanyaan kakek tersebut tapi justru saya. Maklum saja sahabat saya ini kurang bisa berbahasa Jawa yang halus. “Kangge berdiang, Mbah! Kulo sak konco sipeng teng inggil mgriku, teng POS 1 (Untuk perapian, Mbah! Saya dengan teman-teman menginap diatas sana, di POS 1)” “Lha kayu teles ngono kok arep dinggo berdiang, opo yo iso murup (Lha kayu basah gitu kok mau dibuat berdiang, apa ya bisa nyala)? “Lha wontene kajeng nggih niki, Mbah! Nggih mangke ak saget-sagete diurupaken (Adanya kayu ya ini, Mbah! Ya nanti diusahakan dinyalakan)?” jawab saya berbasa-basi, karena saya membayangkan betapa susahnya menyalakan kayu yang kami dapatkan itu. “wis ngene wae, Lee! Ayo melu Mbah nang omahe Mbah, Mbah duwe kayu bakar akeh tur garing-garing. Mengko yen mbok nggo berdiang cepet murup. Piye, gelem ora kowe (Sudah gini saja, Nak! Ayo iku Mbah, Mbah punya kayu bakar banyak lagian sudah kering-kering. Nanti kalau kamu buat perapian cepet nyalanya. Gimana, mau nggak kamu)? Saya menjawab “ Daleme Mbah pundi, menawi tebih kulo mboten sekeco kaleh konco-konco, mesakaken konco-konco kulo kedangon ngentosi (Rumahnya mbah dimana, kalau jauh saya tidak enak sama teman-teman. Kasihan teman-teman saya lama menunggu)?” “Ora adoh kok, Lee! Mung rodo mlebu alas kuwi sitik, wis mulehe mengko tak terke nek kowe wedi kesasar (Gak jauh kok, Nak! Hanya agak masuk hutan ini sedikit, sudah nanti pulangnya aku antar kalau kamu takut lupa jalan)?”. Setelah kami pikir-pikir, meski ada perasaan yang kurang enak, tapi masih kalah oleh kesungguhan kakek tersebut, apa salahnya kami menyambut baik tawaran si kakek, ini daripada kayu yang kami dapat juga terbilang masih basah, dan pasti susah untuk menyalakannya, tanpa ada minyak! Kemudian berdua kami mengikuti kakek tersebut yang berjalan didepan. Dan memang tak berapa lama kemudian kami sudah sampai disebuah rumah kecil, halamannya lumayan luas yang ditanami sayur-sayuran. Kenyataan ini mengesankan sekali kalau rumah tersebut adalah model rumah-rumah dilereng gunung. Disebelah kiri rumah agak kebelakang memang ada tumpukan kayu-kayu kering yang banyak sekali. Menurut perasaan saya waktu itu. Perjalanan dengan si kakek tak lebih dari 5 menit. Sayangnya saya tidak membawa jam atau HP yang memang saya taruh di tas, di pos 1 tempat kami bermalam. Singkat cerita setelah sahabat saya mengambil kayu secukupnya dan mencicipi ketela dan wedang jahe yang sedari kami sampai ke rumah kakek tersebut sudah dipersiapkan 2 gelas! Kami pun berpamitan pada nenek istrinya si kakek. Dengan di antar si kakek, saya dan sahabat saya yang memanggul kayu berjalan beriringan, kadang-kadang kalau jalannya sempit si kakek berjalan paling belakang. Dalam perjalanan ini kami tidak bicara sepatahpun. Sedangkan saya sendiri sempat berkhayal pasti kawan-kawan yang menunggu di pos 1 pasti senang, karena kami membawa kayu bakar yang kering. Namun, dari sahabat saya yang memanggul kayu sempat terlintas perasaan aneh, bahwa ia membawa kayu bakar yang lumayan banyak tapi kok tidak merasa berat dan juga tidak merasa lelah. Dia berpikir, barangkali dia senang dapat kayu bakar banyak dan lagi tadi kami habis makan ketela rebus, ditambah wedang jahenya segar sekali. Setelah berjalan sekitar 5 menitan, kemudian sampailah kami persis ditempat pertama kami bertemu si kakek. “Lee, Mbah ngeterne kowe tekan kene wae yo! Mesakne Mbah wedok ora ono kancane nang omah, lan maneh kowe-kowe rak wis eling to dalan nang panggonane kanca-kancamu mau? (Nak, Kakek ngantar kamu sampai disini saja ya! Kasihan Nenek tidak ada temannya di rumah, dan lagi kalian kan sudah ingat to jalan menuju tempat teman-temanmu tadi. langsung menjawab, “Oh, nggih Mbah matur suwun sanget, ngrepotaken Mbah kemawon niki, kulo kaleh rencang kulo sampun enget kok Mbah marginipun (OH, mbah terima kasih sekali, merepotkan saja Mbah ini, saya dan teman saya sudah ingat kok Mbah jalannya)”. Kemudian saya lihat kakek tersebut berjalan balik, dan tanpa penerangan sama sekali. Sedangkan kami berdua memepersiapkan diri mau meneruskan perjalanan naik ke Pos 1. Hanya saja sahabat saya merasa aneh, sebab bawaan kayunya sekarang kok terasa agak berat.” Aah, barangakali kamu sudah lelah”, jawab saya sekenanya. Setelah berjalan beberapa langkah, saya sempat menoleh lagi kebelakang untuk melihat si kakek. Tapi sosok tadi sudah tidak kelihatan lagi, padahal baru saja. Tapi ya sudahlah, pikir saya dia lewat jalan pintas. Setelah hampir sampai di Pos 1 satu saya agak kaget, di kejauhan kok ada cahaya kemerahan. Bengong saja waktu itu dan kami sempat berpandangan agak lama. Jangan-jangan ini sudah pagi. Dengan rasa penasaran bergegas kami ke POS 1 tempat kami berencana bermalam. Dan penasaran kami terjawab sudah! Kami berdua bengong saja ketika 5 rekan kami marah terhadap kami habis-habisan, mereka menunggu kami dengan harap-harap cemas. Mencari kami pun percuma, mau turun ke bawah juga sangat riskan karena satu-satunya senter saya bawa untuk mencari kayu bakar. Meraka hanya berteriak-teriak saja memanggil kami dari sekitaran Pos 1 tersebut. berlima mereka sepakat jika pada keesokan harinya saja akan mencari kami dan sebagian akan meminta bantuan dibawah untuk melaporkan hilangnya kami berdua. Baru kali ini saya merasakan rasa sepenanggungan, kami berpelukan dengan mata berkaca-kaca. Meski mereka sempat melampiaskan rasa kejengkelan pada kami berdua. Saya terima dengan ikhlas. Lapang dada! Kagetnya, waktu itu sudah pagi betulan. Tak berapa lama kemudian matahari muncul dari balik bukit dan pemilik warung pun sudah datang dari bawah. Setelah kami memesan mie instan di warung, kami semua turun dan tidak jadi meneruskan perjalanan naik ke puncak Lawu. Diliputi sejuta pertannyaan kenapa semua ini bisa terjadi. Waktu kami berdua mencari mencari kayu bakar, temen yang lain bilang belum sampai pukul 9 malam. Dan menurut saya ketika dirumah kakek tersebut tak lebih dari stengah jam dan ditambah 10 menit pulang pergi kerumah kakek tersebut. tahu tahu kami samapi lagi di Pos 1 sudah pukul 5 pagi. Apakah ini yang namanya disebut menembus batas waktu. Entahlah, saya hanya bersyukur tidak terjadi apa-apa pada kami semua. Saya tidak mau berandai-andai. Cukup pengalaman ini kami maknai sendiri dan kalaupun itu dinamakan menembus alam gaib. Wallahu a’lamu bisshowab. Hanya Allah yang tahu. Pada akhirnya semua rencana kami batalkan semua. Kami langsung meluncur pulang kembali ke Tuban, dengan masih membawa sejuta pertannyaan yang bergelayut dibenak. Siapa kakek itu? Siapapun beliau, saya berterimakasih padanya, atas kebaikannya pada kami berdua. Hanya Tuhan yang akan membalas kebaikanmu Mbah.. wassalam. Sumber : disini

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

2 responses to "Bertemu Kakek Misterius di Gunung Lawu"

ROAD TO HELL JALAN KE NERAKA [01:04 PM, 06-Feb-13]

Assalamu'alaikum Brad smile

Kunjungan Siang, Sori buru2 lagi Istirohat Nih rolleyes
Update Dulu Brader biggrin Postingnya!

http://Roadtohell.mywapblog.comlol

sulistyo alfarizii [04:21 PM, 03-Mar-13]

di gunung lawu memang penuh mistis, pengalaman saya pribadi, dulu saya pernah mendaki kesana, tapi saat bercnda dgan tmanku saya trlalu meremehkan medanya yang bagi pendaki tak begtu menantang,alhasil saya tak bsa sampai ke puncak, bru smpai pos 4 rasanya malas melanjutkan perjalanan, ditahun berikutnya saya kesana lagi tapi juga gak sampai puncak malahan bru pos 1,krn cuaca tdk mendukung,q jd sdar mgkn krn ksmbongnq aq jd gk bs mncpai punck lwu

Subscribe to comment feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images